Kamis, 20 Februari 2014

Sementara

Pada umumnya makam memiliki bentuk yang sama, hanya gundukan tanah dan ditandai oleh nisan. Seperti halnya komplek pemakaman diujung desa kecil yg tentram dan penuh dengan segala aktifitas. Sebuah desa yang dikaruniai Tuhan dengan segala kekayaan bumi-nya. Desa yang dihuni oleh mereka yang ingin mendapatkan kedamaian, oleh mereka yang hidup saling berbagi.
Sekilas daerah pemakaman tersebut tidak terlihat ada perbedaan dengan pemakaman umumya, dipenuhi oleh persemayaman terakhir para penghuni desa, hanya sedikit pepohonan rindang disana tidak cukup untuk melindungi mereka yang ada dibawahnya dari terik matahari. Tapi ada satu makam disana yang terlihat sangat mencolok, makam itu terlihat berbeda dari makam-makam disekitarnya, tidak ada batu nisan dan tidak tercantum sebuah nama diatas pusaranya. Diatas makamnya terdapat ukiran patung terbuat dari batu putih, patung tersebut memiliki ukuran 1:1 dengan ukuran manusia pada umunya. Jelas terukir disana seorang lelaki kurus terbujur lemah, tangan kiri patung lelaki itu tampak sedang memegang sesuatu diatas perutnya, tapi kosong. Konon katanya  nantinya tangan kiri yang seperti sedang memegang sesuatu namun kosong itu bisa digunakan untuk menyelipkan setangkai bunga diselah-selah jemarinya, bagi siapapun yang menyayangi lelaki itu ketika berziarah kelak. Wajah lelaki itu tampak datar, sama sekali tidak terdapat ekspresi apapun tapi jelas terlihat matanya sedang menatap lembut kearah sosok patung wanita cantik berkerudung yang sedang duduk disampingnya, mereka tidak saling tatap karna wajah patung wanita itu memandang langit barat, sejajar dengan posisi tubuh patung wanita tersebut. patung wanita itu terlihat sedang tersenyum, ekspresi bibirnya seolah sedang mengucapkan sesuatu tapi entah. Tangan kiri patung wanita itu sedang menggenggam pergelangan tangan kanan dari patung lelaki yang berusaha menyentuh wajahnya. Tangan kanan patung wanita itu terukir sedang menunjuk kearah dada kiri si lelaki. Dari kejauhan makam itu tampak terlihat seperti dua sejoli yang sedang berbincang tentang senja.
Tidak seorangpun yang mengerti apa maksud dari sang seniman ulung itu mengukir dan meletakanya disebuah makam diujung desa. Sayang sekali rasanya jika karya yang diukir sangat detil tersebut hanya dilihat oleh para peziarah yang datang untuk menumpahkan air mata kerinduan diatas makam-makan lain. sepertinya sang pemahat berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan melalui sebuah karya yang indah.
Sore itu sedikit gelap tampak seorang gadis cantik melangkah memasuki komplek pemakaman dengan menggenggam setangkai mawar putih, paras cantiknya tidak bisa menutupi rasa kehilangan yang amat sangat mendalam. Dia terus melangkah diantara makam yang sedikit basah karna tersiram hujan sebelumnya dan dia kemudian berhenti persis dipinggiran makam yang dihiasi patung tadi.
“aku datang, seperti apa yang telah kamu tulis”. Kemudian dia menyelipkan bunga yang dibawanya tadi diantara jemari kiri patung lelaki itu.


Sabtu, 30 November 2013

Tarserah..




#np Yiruma - Kiss The Rain..

Apa Siapa kenapa?

Jangan tanya gue, karna gue juga menanyakan pertanyaan yang sama, tapi faktanya gue pribadi suka sama twit dia, rumit tapi pesan yang disampaikan nyambung sama otak gue yang seiklasnya ini. Kadang rada oleng juga sih..

Cara lu nikmatin hidup itu keren mban, keren. Lu perlakukan dunia ini seperti lu megang bola, dimana lu bias lempar bola itu ketembok disaat hati lu berontak, tapi bola itu balik kedalam gennggaman lu, lagi..

Dan (kamfret) lu belum ngajarin gue tentang itu, Gus Arfandi..

Hidup dengan rahasia besar itu sulit (katanya), makanya wajar kalau banyak orang menghargai lu dan orang yang lu sayang. Lu bisa menata rapih setiap jengkal rahasia hidup lu dibalik kancing baju lu. Dan gue rasa apa yang terjadi dengan orang yang lu sayang hari ini sudah lu susun sebelumnya. Hhhmmm pelukis senja..

Kalau di inget-inget awal gue mulai stalk twitnya gara-gara Kadell Delan Ulet Nangka. eh bentar, pertama gue liat Kadell di ajang pencarian jodoh bhahahak *Ssssssttttttt*..

Sori salah fokus, lupakan Delan entar dibilang caper..

gue banyak belajar dari dia terutama waktu dia jawab pertanyaan ‘mana yang lebih berdosa antara orang kemalingan dengan si maling itu sendiri?’. Bertentangan sih tapi dia meyampaiannya dengan apik.
Oiya mban, sekarang gue punya jawaban kalau ditanya siapa idola gue, dan sekarang gue malu untuk mengeluh..

Gue gak perduli siapa dia yang  jelas Muhammad Arfandi itu orang hebat yang baik..

#np Home – Michael Bable

Jumat, 16 Agustus 2013

Sepucuk

Kita ini cuma manusia yang kerap kali gak tau maunya apa, dan bahkan seringnya gak tau apa-apa.
Cinta, sayang, benci, kecewa, bahagia, kesal, sedih, marah... Maha besar Allah yang udah menciptakan hati kita sedemikian kuatnya menanggung semua perasaan itu, toh masih ada juga yang luput atau sengaja kita lupakan. Itu manusiawi, karena kita butuh ruang untuk bisa merasakan kembali perasaan itu semua dengan sebenar-benarnya tanpa ada istilah pelampiasan, pelarian atau apapun bahasanya.
Mengetahui ada lu yang memiliki perasaan sayang yang gak ada habisnya buat gue adalah suatu anugerah, meskipun gue gak bisa bersikap semestinya untuk menerima cinta lu. Gue udah pernah kasih lu kesempatan dan bila ternyata semuanya gak berjalan dengan baik, gue minta maaf...
Kalau ada yang harus disalahkan, salahkanlah gue yang kurang bersyukur atau gak bisa ngasih lu kesempatan lagi. Pasti rasanya sakit banget buat lu. Percayalah, gue juga tau gimana rasanya berada di tepian.
Gue gak bisa bilang agar lu mau mengikhlaskan perasaan itu. Gw juga gak akan lagi minta u buat ngerti, karena hati adalah sesuatu yang memang sulit dimengerti. Akan ada waktunya dan akan ada seseorang yang sayang sama lu dan jauh lebih layak menerima cinta sebesar itu dari lu.
Akhirnya, kita cuma bisa berpasrah setelah semua usaha terbaik yang bisa kita lakukan. Semoga kita bisa menjalaninya dengan lebih sadar dan sabar.
Sehat terus ya, and wish the best for you.
SM, 11 Agustus 14:13

7 Huruf

Awalnya

Ini bukan cerita lucu seperti cerita Kabayan pergi ke kota untuk Nyi Iteung. Dan ini juga bukan cerita sedih seperti kisah Romeo dan Juliet yang mati bunuh diri gara-gara cinta. Ini lebih ke cerita pribadi yang konyol seperti Kabayan dan Romeo arisan dirumah Nyi Iteung.
Ini cerita dari anak-anak desa yang mencoba meraih cita-cita dikota. Nggak semua cerita ini benar adanya hehehe hayalan gue aja.. .

Oke cerita dimulai.. .

Beberapa tahun lalu pas gue lulus SMA dan melanjutkan kuliah dikota dan ini bukan merupakan pengalaman pertama gue jauh dari orang tua karna sebelumnya gue sekolah di pulau sebrang tapi tetep, didesa.. .

Dari kecil gue memang selalu pengen hidup sendiri tanpa dikawal oleh aturan-aturan orang tua yang, jengah. Entah karna gue bandel apa gue memang senang dengan kehidupan bebas, bebas memilih jalan hidup. Padahal waktu itu uang jajan aja masih minta sama orang tua. Walaupun belakangan ini gue mulai ngerti ucapan bokap "manfaatkan waktu sebaik mungkin, sedikit terpeleset kamu akan kehilangan banyak", waktu gue mau berangkat sekolah di Bogor. Well, gue mulai menyesali tahun-tahun yang terbuang sia-sia yang awalnya gue banggakan, waktu itu bukan sekedar angka, dia akan datang untuk menghakimi. Kalau bokap gue baca ini gue mau bilang "I love you Pah".

Hal pertama yang gue cari waktu gue sampe dikota sudah jelas, kos-kosan. Disini gue bertemu dengan orang-orang yang menurut gue absurd cenderung bloon. Mereka ini entah jelmaan species apa sampe setiap jengkal saraf otak gue selalu mengingat setiap peristiwa dari yang lucu, kesal, senang, sampe kelaperan berjamaah. What?

Oiya kenalin gue Ichal Zaxena (Saksena bukan Jakenah) itu bukan nama asli gue, nama Ichal itu diambil dari bahasa Jawa *kalo nggak salah* yang artinya 'ilang'. Kenapa? Karna waktu gue SMA gue selalu tiba-tiba menghilang tanpa jejak terutama setiap rapat OSIS. Teman gue si Aji Belo anak Jogja yang selalu manggil itu sampe satu sekolahan ikut-ikutan dan anehnya gue nggak keberatan, dan Zaxena (Saksena bukan Jakenah) itu eemmm gue karang sendiri :) biar agak keren dikit. Kalau ada cewek yang bertanya kenapa gue nggak pake nama pemberian dari orang tua? Simple, karna nggak sembarangan orang yang boleh manggil gue dengan nama asli. Pertama, orang yang boleh manggil gue dengan nama asli adalah teman gue dari kecil. Kedua keluarga gue sendiri, lu nggak boleh manggil gue dengan nama asli kecuali lu masuk kedalam anggota keluarga gue, jadi istri gue dulu misalnya.

Dikosan itu gue dapet kenalan baru sebut aja Bolot, Sabro dan Mandra. Mereka ini yang nantinya mengisi hari-hari gue dengan kekamfretan. Kenapa? Simple, karna mereka kamfret!. Brother, dulu lu sering nge-bully gue dan gue bakal bully lu balik disini. HIH...!
Dihari pertama kenal mereka aja udah bikin gue puffing.
"Baru ya coy?" kata salah satu dari mereka.
"Kenalin gue Bolot, ada yang bisa gue bantu?" 
"Ini dia nih orang baik dikosan ini" pikir gue dalem hati.
"Tapi lu punya rokok kan?"
Ebuseh yang namanya anak kos mah tetep ada ujungnya. Tapi dari pada gue beres-beres sendirian jadi ya iya-in aja, dan gue kira doi langsung bergerak bantuin gue tapi setelah doi bakar rokok.
"Duh perut gue mules, gue kekamar mandi bentar ya"
Gue belum jawab eh si Bolot sudah ngilang, ya gue bisa apa lagi selain ngelus dada, maklum anak baru.
Selang beberapa lama ada satu mahluk lagi datang, kali ini style-nya cool, setengah eksmud gitu.
"Eh sudah ada yang ngisi kamar ini ya?" sok akrab
"Iya bang hehehe" sok  imut.
"Jangan panggil Bang, Panggil aja Mandra" kemudian sisiran. "Gue juga baru disini, baru seminggu yang lalu gue ngisi kamar nomor 3"
"Oohh" gue manggut-manggut aja.
Lagi ngobrol garing gitu dateng lagi satu mahluk berpostur tubuh agak kekar muka lumayan seram, seseram tempayan menyan.
"Nah ini Sabro, anak baru juga dikampus tapi dia tinggal dirumah" kata Mandra mengenalkan sosok seram tadi.
"Halo bang, gue Ichal anak baru" kata gue sok manis biar nggak di palak.
"Gue Sabro, Mahasiswa semester awal, makanan favorit gue nasi padang karet satu karna gue nggak suka pedes, minuman favorit gue es cendol. Oiya gue juga suka nulis diary lho"
Bla bla bla penjelasan yang nggak pernah gue mau tau.
Si Mandra cuma nyengir aja ngeliat gue mangap ngeladenin Sabro, tapi tangan si Mandra ini punya super reflek, entah apa yang bikin doi senyum-senyum sambil ngambil rokok gue dan menikmatinya, mungkin setiap doi ngeliat rokok doi selalu mendapat bisikan halus untuk menghisapnya.
Mandra dan Sabro ini nantinya bakal satu fakultas sama gue, kebayang dong kedepanya gimana?. Kalau si Bolot sedikit lebih tua dan doi beda Universitas. Universitas Negri punya cuy!
Berkat kedatangan dua mahluk tadi kerjaan gue jadi lumayan enteng, selesai sebelum waktunya. Nah karna gue anak baru gue wajib melayani mereka dikamar gue, mulai dari bikinin kopi sampe buang puntung rokok mereka.

Oke semua sudah beres dan kami mulai asik ngobrol seolah sudah lama kenal.
"Eh ada Sabro dan Mandra rupanya, udah lama?"
Tiba-tiba nongol dari balik pintu manusia tanpa dosa, Bolot.
"Apanya?"
"Jeleknya.."
Krik krik krik
"Hahaha Oiya apa nih yang bisa gue bantu buat penghuni baru?"
Gue sih orangnya gampang trauma, jadi gue jawab seadanya.
"Rokok gue abis Lot"
And you know lah, merekapun larut dalam obrolan. Semakin lama candaan mereka semakin melebar kearah jahil. Si Sabro jadi korban pertama. Mandra iseng masukin pecahan batu bata yang bentuknya bulat kedalam bungkus pilus-nya Sabro dan...
"Kamfret pilus macam apa ini rasanya mirip tanah liat?"
Gue yang ngeliat cuma pura-pura prihatin.
"Mungkin itu pilus buatan sebelum masehi, sudah jadi batu Bro"
Tampaknya Mandra puas pemirsa.
Orang-orang seperti mereka inilah yang nggak ada 'mati'-nya (minimal menurut gue). Mereka lahir dari golongan Ras yang berbeda tapi mereka sama sekali tidak pernah menyinggung sedikitpun perbedaan itu, justru dibalik kekonyolan mereka perbedaan itu bisa terpelihara sampai sekarang. Dihati mereka kita semua ini satu dibawah Panji-panji Pancasila. Kita Indonesia Bung..!
"Siapa tadi nama lu Chal?" tanya Mandra.
"Ya Ichal Ndra"
"Eniwey lu mirip Chal, mirip banget malah"
"Mirip siapa Ndra? Ah lu bisa aja" sedikit penasaran campur ge'er
"Mirip neneknya temen gue kalo lagi makan sirih"
"MAKSUD NGANA..?"

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Manfaatkan Ide (Teman) Sebaik mungkin

Waktu terus berjalan tanpa terasa persahabatan ke empat bidadara kita ini semakin kental, semakin terikat satu sama lain. Disaat satu diantara mereka jatuh sakit maka yang sehat akan merawat sebisa mungkin, dengan segala ke-sotoy-an mereka tentunya.
Pernah si Mandra tiba-tiba sakit tengah malam, dengan sigap Bolot keluar kamar menembus dinginya malam untuk mencari obat..

"Lot gue nggak enak badan nih" kata Mandra sedikit manja.
"Oh" saut si Bolot.
"Woy gue beneran sakit Lot"
"Ya terus gue mesti ngapain?"
"Kerokin gue kek"
"Ahelah lu Ndra, film-nya lagi seru nih, bisa nunggu kelar dulu nggak?"
"Gila lu Lot! Film-nya baru mulai"
"Ya sabar, lu warming up dulu kek sono"
"Ayolah Lot pliisssss" Mandra tetep ngotot minta dikerokin saat itu juga.
"Etdah, yodah sini".

Betapa mulianya hati Bolot, rela membiarkan film kesayangannya berlalu demi seorang teman yang sedang butuh pertolongan. Tapi nggak sampe disitu.
Selesai kerokan Mandra tak kunjung merasa baikan, masih demam.

"Lot, koq gue nggak ngerasa apa-apa ya?"
"Yeeee meneketehe Ndre! Dikelitikin pake beling baru berasa"
"Maksudnya badan gue masih demam. Gini ajadeh, tolong cariin gue obat warung dong"
"Ini sudah tengah malem Ndro, susah nyari warung yang masih buka jam segini"
"Pasti ada Lot kalo lu mau usaha"
"Terus gue sama siapa?"
"Itu diluar Ichal sama Sabro lagi pada maen gitar"
Dengan langkah setengah gontai Bolot berusaha merayu dua cunguk yang lagi asik nyanyi-nyanyi nggak jelas.
"Chal anterin gue nyari obat buat Mandra"
"Jangan gue, Sabro aja"
Sabro kaget.
"Kan lu yang diajak Chal, kenapa lu nunjuk gue?"
"Tengah malem gini banyak penjahat keliaran, badan lu kan gede dan tampang lu lumayan angker. Panjahat pasti mikir kalo mau malak lu"
"Iya Bro bener tuh kata Ichal" Bolot setuju dengan pernyataan gue yang spontanitas.
"Hhhhhhhhh...." Sabro menghela nafas.
Selang berapa lama mereka datang dari mencari obat, tapi apa yang terjadi? Bolot lupa bawa obat yang dibeli diwarung, yang dibawa dari warung cuma obat nyamuk.

"Heh lu bunuh aja gue sekalian Lot, lu iket gue, masukin kedalam karung terus lu ceburin kesumur!"

Teriak Mandra dari dalam kamar, kami semua tertawa melihat gelagat Mandra. Pada akhirnya kami bertiga balik lagi kewarung tadi, iya gue juga ikut dari pada kena semprot si Mandra.

Ya begitulah Bolot, jiwa sosialnya tinggi, dan dia juga lumayan pintar (dilingkungan kosan). Sebenarnya diantara kami berempat cuma si Bolot yang fisiknya agak lemah alias mudah jatuh sakit. Tapi walaupun begitu Bolot adalah orang yang selalu jadi orang pertama bertindak kalau ada temanya jatuh sakit. Kalau dipikir sebenarnya Bolot ini 'penggerak', dia selalu ngeluarin ide-ide disaat kondisi genting, misalnya kiriman dari kampung belum sampe dan kondisi kantong sedang sensitif terhadap kami maka Bolot akan mengeluarkan ide cemerlang. Beuh hebat kan?

Pernah dengar istilah kata orang tua dulu? Kalo perut kosong pikiran bisa buntu, apa saja dilakukan demi memenuhi tuntutan cacing dalam perut. Bahkan tidak jarang orang terpaksa melakukan kejahatan karna pikiran sudah tidak bisa berputar dengan normal. Mereka tidak mempertimbangkan lagi haram atau halal yang penting bisa makan.
Mungkin itu salah satu alasan mengapa orang tua kita dengan susah payah menyekolahkan kita sampai jenjang pendidikan yang tertinggi, selain agar kita bermanfaat di masyarakat juga agar pola pikir kita lebih maju karna orang tua kita sadar benar akan persaingan dimasa mendatang, hukum rimba akan tetap berlaku tapi beda modus saja. Kalo dulu persaingan dengan otot sekarang perang otak, siapa yang lemah dia yang akan melayani.
Tapi bukan berarti orang yang berpendidikan tinggi akan selalu diatas. Tidak sedikit juga mereka yang bertahun-tahun berkutat dengan halaman-halaman buku justru merka yang menjadi pelayan bagi mereka yang tidak mengecap pendidikan.
Kenapa gue jadi bahas pendidikan? Au ah tinggalin..
Lanjut kemasalah perut. Tentu kalian tau apa yang ada didalam perut, salah satunya adalah lambung. Nah lambung ini peran-nya cukup ekstrim, kalo dalam kendaraan itu istilahnya 'tangki' makanya pernah ada celotehan 'tangki miring kapten..!'.
Banyak yang bilang disaat perut kosong otak akan berhenti berputar, tapi tidak untuk ke-empat orang ini..

Suatu waktu kantong kami tipis, belum ada yang makan dihari itu dan seperti biasa Bolot mengeluarkan ide cemerlang.

"Gue punya ide" kata Bolot antusias
"Gimana kalo gue pura-pura sakit terus Ichal kabarin Sabrina kalo gue sakit dan belum makan"
"SETUJU..!" jawab kami serentak.

Bagi kami ide itu sangat brilian disaat perut kami mengalami depresi. Gue nggak mau tunggu lama dan langsung kekampus nyari gadis manis bernama Sabrina.
Sabrina ini cewek angkatan gue, doi cantik dan tajir dan doi naksir abis sama Bolot sayangnya Bolot nggak begitu merespon perasaan sabrina.
Nah karna gue yang paling pinter nyepik makanya gue yang ditugaskan merayu Sabrina.

Dilapangan parkir kampus.
"Sabrina mau kemana?" awal sepik.
"Mau pulang Chal, udah nggak ada kelas. Kenapa?"
"Eemmm nggak, nggak apa-apa koq"
"Koq lu loyo sih Chal?"
"Iya Sab, nggak enak maen kalo nggak ada Bolot rasanya ada yang kurang"
"Eh iya kemana kak Bolot?"
"Sebenarnya nggak enak nih mau cerita, gue lemes Sab dari pagi belum makan"
"Yaelah lu kaya apa aja, yuk ngobrol dikantin"
Oke satu point.

Selesai makan dikantin Sabrina mulai buka pembicaraan.
"Katanya lu mau cerita tentang kak Bolot"
"Astaga iya gue lupa hehehe, gini Sab.." nyeruput juss jeruk dulu.
"Sebenarnya Bolot lagi sakit dikosan, keadaannya memilukan wajarlah namanya juga anak kos di akhir bulan"
"Ya ampun Chal"
"Saran gue sih lu sudi mampir jenguk dia Sab, dia sekarang butuh seseorang didekatnya"
Yaudah tunggu apa lagi? Ayuk kita kekosan lu"
"Satu lagi Sab"
"Apa?"
"Bolot belum makan, dan dia kalo lagi sakit biasanya porsi makan dia berlebihan"
Tanpa pikir panjang Sabrina Beli makanan yang banyak.
"Kira-kira kak Bolot suka ini nggak ya?" nunjuk sambal udang.
"Suka banget Sab"
"Kalo itu?" Nunjuk Rendang.
"Jangan terlalu banyak Sab, jadi ngerepotin gini tapi gapapa rendang juga"
"Yeeeeee....."

Saking perdulinya Sabrina ke Bolot dijalan dia sempat mampir ditoko cake, wihhhhh....
Nggak sedikit yang dibeli dan menurut kami anak kos, itu cake mahal.
Singkat cerita sampe nih dikosan, gue liat Sabro sudah standbye nunggu. Keberadaan Sabro dipagar kosan bukan nungguin dompet orang jatuh tapi untuk ngasih isarat ke Mandra yang juga standbye didepan kamar Bolot. Jadi Bolot bisa mulai drama ini dengan sempurna... .

"Kak Bolot Sakit apa?" kata Sabrina manja.
"Nggak tau nih Sab dari kemaren nggak enak body" Uuuuhhhhhh cocuiiiitttttt....
"Belum makan kan? Sini aku suapin ya?" Haaaaaaagubraaaaaaggggg. Lebay ih..!
Gue yang sedari tadi ngejogrog diujung ranjang entah kenapa bawaanya mau meluk lemari.
"Eh sori nih ganggu, dari pada kamar jadi sempit ada baiknya makanan ini gue simpen dulu dikamar gue, tenang aja aman koq" gue mencoba menawarkan kebaikan.
"Iya Chal gapapa tapi bawa sini nasi kak Bolot"
"Oke"

Semua makanan yang dibeli Sabrina tadi gue bopong keluar kamar dimana dua kroco sedang menunggu nasib mereka. Dan nyawa kami terselamatkan waktu itu.
Kami semua kenyang, tapi setelah Sabrina pamit pulang.

"Woi nyet! Mana Roti gue?"
"Wah sori Lot, kita bertiga hilaf"
"Kamfret lu semua, gue dikamar kepanasan dalem selimut lu malah nikmatin hasil ide gue!"
Kata 'Hilaf' disini adalah finaly alibi bagi kami, namanya juga hilaf ya mau diapain lagi? Iyakan? (iya-in aja)

Pernah juga Bolot jadi bahan ke-sotoy-an kami bertiga.
Waktu si Bolot jatuh sakit (kali ini siang) dia pergi kekamar Mandra.
"Ndra kerokin gue dong"
"Duh Lot gue baru sampe dari kampus"
Kemudian Bolot beralih ke gue.
"Chal.."
"Tangan gue tiba-tiba kesemutan Lot" jawab gue spontan.
Sabro nggak mau kalah.
"Aduh Lot bentar lagi gue ayan" kata Sabro sebelum dimintai pertolongan.
Bolot tertunduk lesu dipintu.
"Ya Allah salah apa aku ini ya Allah?"
Eits kami nggak sejahat itu koq, kami tetap menjunjung tinggi persahabatan dengan memberi pertolongan kepada teman *benerin kerah*

"Wah Lot kayanya lu DBD" kata gue sok tau.
"Sotoy lu Chal! Yang begini mah namanya Evilepsi" kata Sabro nggak mau kalah.
"Lu kenapa pada debat?" bentak Mandra.
"Mendingan lu ambil air anget terus kasih garem nah nanti kaki Bolot kita rendem selama satu jam" lanjutnya.
"Ah tau apa lu Ndra? Sini Lot gue bacain jumpa-jampi warisan moyang gue" kata Sabro.
Bolot yang tak berdaya membanting puntung rokok.
"Debatnya udah apa belum? Kalo belum gue mau pingsan dulu nih!"
Kemudian Bolot pura-pura pingsan.

Bukan bolot namanya kalo dia berhenti mengeluarkan ide, dan bukan cuma wanita yang menjadi korban. Sebut saja Hasan, Hasan ini teman kampus gue juga. Dia sering mampir ke kosan cuma untuk melepas penat atau bahkan menjadikan kosan kami sebagai tempat strategis untuk bolos. Dia termasuk anak periang (baca: Centil) dan gaul, disemua fakultas dia punya kenalan bahkan 'pentolan-pentolan' fakultas dia kenal.
Suatu hari dia datang kekosan dengan wajah yang muram durja. Seperti biasa masuk kamar tanpa salam.

"Haddoooooohhhhh" kata Hasan sambil melemparkan diri keatas kasur.
"Kenapa lu San?" Tanya Sabro.
"Gapapa" Jawab Hasan singkat.
Awalnya Hasan enggan bercerita permasalahannya yang bikin wajahnya mirip pecahan genteng. Tapi mungkin karna merasa keberadaannya tidak digubris akhirnya dia sendiri angkat bicara #caelah.
"Bolot sama Mandra mana Chal?"
"Lagi kewarung"
"Ngapain?"
"Berenang!" Jawab gue kesel.
"Ya ada yang dibeli lah Onta!"
"Oohh" *krikkrikkrik*
Sesaat suasana jadi garing.
"Eh Chal, Bro"
"Uuyyeeee" Jawab kami serentak.
"Curhat dong" Tatap matanya mulai memelas.
Gue dan Sabro saling tatap heran dan krikkrikkrik.
"Uuyyeeeee" Jawab kami lagi.
"Ekamfret gue serius" Hasan mencoba menegaskan.
"Uuuuu Hacan kenyapa cih? Cini akoh pukpukin" Goda Sabro.
"Ah Je Em Be Te lu!"
Pada waktu itu singkatan Je Em Be Te selalu diucapkan disaat kita sedang kesal, kalo huruf itu di sambung dan ditambah beberapa huruf akan menjadi sebuah benda, yaitu menjadi Jembbbb... Ah sudahlah...
Kemudian gue dan sabro serentak menjawab ungkapan kekesalan Hasan tadi.
"JEMMMMMBAATTAAAANNNNN....!"
"Hahaha lu kenapa San, asem amat muka lu udah kaya upil Fir'aun" Kata gue mencoba menetralisir keadaan.
"Heh! upil Fir'aun mah asin, nyet!" Sabro membantah.
Emang ye Sabro ini selain perawakannya yang angker dia juga doyan membantah.
"Koq lu tau Bro?" Tanya Hasan.
"Udah jangan dibahas, panjang entar ni urusan. Lu jadi curhat apa nggak?"
Suasana kembali mencekam *rada lebay gapapa kali*, terlihat sayup-sayup mata Hasan berlinang.
"Lu nangis San?" Tanya Sabro.
Sebelum Hasan menjawab gue coba menjelaskan pada Sabro.
"Bukan nangis Bro, itu belek"
"Koq cair?"
"Oh mungkin mata si Hasan lagi diare" *Ppppffffffttttttttt........
"Chal, Bro, cinta gue barusan ditolak" Belum sempat Hasan melanjutkan cerita tiba-tiba ada suara dari pintu.
"Uuuuuuuhhhhhhhhhhhhh Hasan sang penguasa kampus hatinya pink juga ternyata, gue kira hati preman warnanya abu-abu monyet" Bolot dan Mandra baru datang dari warung.
"Bukan Lot tapi warna Hitam muda hahaha" Mandra ketawa sendirian.
"Kamfreto lu semua!" Jawab Hasan.
"Ditolak Tery ya?" Tanya Sabro semangat.

Hampir seluruh Mahasiswa kampus Ekonomi angkatan gue tau kalo Hasan tergila-gila dengan Tery, gadis sexy perparas bidadari yang jatuh dari surga, jatuhnya ngangkang.
Hasan tidak menjawab, dia bungkam kemudian membaringkan tubuhnya di kasur, matanya tajam menatap langit-langit kosan seolah-olah Tery ada disana menatap kearah dia yang sedang diliputi kesedihan mendalam. Sayup-sayup terdengar alunan lagu 'Kiss The Rain'. #inilebayjuga

Yang bikin kami heran, Hasan cuma cerita sampe disitu dan membiarkan kami saling tatap.
"San? Hoy San..!"
"Apaaa..?"
"Oh masih ada, udah segitu doang ceritanya? gue mau maen PS nih"
"Tolongin gue gimana caranya mengobati hati yang luka ini teman-teman" Hasan mendadak puitis.
"Gampang, goleran aja lu dikolong angkot" Jawab Mandra ngasal"
"Ndra, pernah kelilipan biji salak belum lu?" Tanya Bolot.
"Teman lagi sedih lu becandain, udah San lu yang sabar aja. Kalo lu mau nangis ya nangis aja, apa perlu gue pinjemin pundak Sabro?" Lanjut Bolot yang kemudian kena toyor Sabro.
"Eeemmm San kita boleh kekamar sebelah nggak? Ada yang mau kita bahas supaya lu dapet solusi"
Gue, Mandra dan Sabro sudah menebak kalo Bolot punya ide cemerlang *Trriiiinnnggggg...
"Kalo itu yang terbaik gue persilahkan kalian rundingan tapi jangan terlalu lama entar gue nangis nih"
"Uyyeee" Jawab kami serentak

Dikamar sebelah.
"Gue punya ide" Kata Bolot mengawali sidang.
"Gimana kalo Ichal pura-pura punya ilmu pelet?"
"SETUJJUUU..!" Sabro dan Mandra serentak.
"Haahhh? Gue Lot..?"
"Karna lu punya basic anak Pondok Pesantren, biasanya anak Pondok itukan banyak menghafal ayat"
"Ide lu cemerlang Lot, terus gimana?" Tanya Sabro.
"Berisik lu Bro maen teras terus aja, ini urusanya nyawa. Entar kalo gagal leher gue bisa digorok sama si Hasan".

Pertimbangan gue masuk akal mengingat teman Hasan banyak dan rata-rata pentolan kampus, salah satu dari mereka nggak terima dan marah, gawat urusannya men! Masa ada berita 'Mahasiswa tingkat awal tewas terlentang gara-gara modus jadi dukun pelet'. Yang nonton bukan bersimpati malah cekikikan disetiap sudut kamar mandi kampus.

"Lu tenang aja Chal, ide Bolot sudah terbukti tokcer dibanding dengkul baboon". Mandra mencoba meyakinkan.
"Entar gue bantu ngomong sama Hasan, dan kalo entar lu kenapa-kenapa kita nggak bakal tinggal diam. Kita pasti tegur mereka yang tertawa melihat berita lu di tipi". Lanjutnya.
"Iya Chal, gue siap pukpukin lu koq" sambung Sabro.
Gue....
*diem* *pandangankosong* *bibirgemetar*
"Gila lu semua kenapa gue jadi tumbal? KENAPA..?"
"Lebay lu nyet" Kata Bolot sambil noyor jidat gue.
"Oke gini, kita bagi tugas"
"Tugas Sabro siapin bahan-bahan yang diperlukan, seperti kain putih, minyak 'nyong-nyong' dan spidol" Gaya Bolot seperti  seorang kapten bajak laut.
Sabro manggut-manggut.
"Tugas lu nanti Ndra, masak."
"Gampang itu Lot" Mandra menjawab dengan penuh keyakinan.
"Tapi nanti lu bantu Ichal ngomong ya"
"Oke siap, terus tugas lu apa Lot?"
"Gue muter otak gimana caranya supaya Ichal nggak masuk tipi"
"Cakeeeepppp..."
Mereka kompak seolah menginginkan kematian gue cepat terlaksana.

Well, itu adalah salah satu alasan kenapa gue males jadi orang cakep, selalu jadi tumbal. zZZzzzZzzzZzzzz..... .

Selesai rapat kami kembali kekamar sebelah dimana Hasan mulai gelisah. #jrengjreng
"Lu mau nggak gue kasih solusi?" Sabro mulai menjalankan taktik.
"Mau, gimana?" Waw Hasan antusias sekali pemirsah!.
Yaaaahhhhh namanya juga cinta yang terbentur jalan buntu, begitu ada sedikit saja celah maka orang tunanetra sekalipun mendadak bisa melihat. #iyagitu.
"Ichal tuh mau ngomong, katanya dia punya solusi buat lu" Kata sabro lempar tokay sembunyi pantat.
"Ichal teman gue yang cakep tolong bantu gue dong" Rayu Hasan dengan wajah yang Je Em Be Te, Jemmmmbbbbbb....
"Eeeemmmmm begini San, lu mau pake jalan pintas nggak? Maksud gue jalan belakang eh maksud gue jalan oneway eh anu maksdu gue...."
"Pelet, maksud Ichal itu pelet San. Manjur men..!" Mandra sangat berkobar.
Hasan lumayan mangap.
"Yakin lu semua?"
"Haqul yakin, dia kan mantan anak pesantren. Si Opank bisa jadian sama Jupri eh maksud gue Intan, itu kan karna ilmu peletnya Ichal" Bolot membantu meyakinkan, dan gue masih gemeteran.
"Gimana caranya Chal?"
Gawat men, Hasan mulai peryaca dan semangatnya melebihi semangat pegawai PNS baru terima gaji 13.
"Entar malem gue kerjain deh, lu catet aja nama lu sama nama cewek yang lu taksir. Besok lu balik lagi kesini, Oke?"
"Wah kalian memang teman paling hebat"
"Tapi nggak mudah San, ada mahar-nya. Iyakan Chal?" Kata Bolot menyudahi kegembiraan Hasan.
"Bener San, besok lu balik kesini dengan membawa ketan hitam satu kilo, kacang ijo satu kilo, beras satu kilo, rokok satu slot dan kalo lu mau lebih afdol lu bawa ayam hitam dan ayam putih juga mahar berupa uang seiklasnya asal jangan kurang dari gocap".
"Ebujug!" Hasan mangap lagi.
"Mau nggak?"
"Oke siap, demi Tery besok gue balik lagi bawa syarat yang tadi lu sebut" Luar biasa semangat Hasan *prokprokprok*
"Eh tapi entar dulu!" Eng ing eng...!
Hasan membuat kami merasa gagal.
"Eniwey ni ya guys. Ichal kan punya ilmu pelet, terus kenapa lu semua masih jomblo? Terutama elu Chal!"
Tik-tok-tik-tok-tik
"HEI LIHAT ADA PESAWAT UFO DIATAP KAMAR GUE..!" (Salah satu keahlian gue).

Ehem ehem Hai San, Kalo suatu saat nanti lu baca tulisan ini, disaat itulah gue akan menyesali perbuatan gue, gue mau minta maaf San. Beneran gue cuma boneka bagi mereka, sekaligus maafkan juga tamen-teman mu ini hehehehe pisssss. Oiya gue juga sekalian mau minta maaf kalo gue memang lebih tampan dari lu bhahahak....

Selepas kepergian Hasan dari kosan, kami semua bergerak cepat, masing-masing menjalankan perintah yang sudah direncakan tadi. Sabro mencari bahan yang diminta Bolot, Mandra mencari warung yang bisa di-utang-in minyak tanah (persiapan masak besok). Bolot pun ikut sibuk mencari sepuntung rokok dilemari gue, dan gue shalat taubat.
Setelah semua bahan terkumpul kemudian Bolot mulai meracik sesuatu, dia ambil sedikit tanah dari depan kamar kemudian disiram minyak 'nyong-nyong', minyak jenis ini biasa digunakan oleh dukun untuk memandikan keris tapi kami meminjam aromanya untuk menambah suasana mistis. Kemudian tanah itu dibalut dengan kain putih dibentuk menjadi persegi panjang, setiap sisinya dijahit dengan rapih agar terlihat benar-benar asli. Dan proses akhirnya adalah...
"Chal lu tulis keliling kain ini dengan tulisan arab, terserah lu tulis apa aja". Perintah Bolot.
Sejenak gue berfikir kira-kira apa yang mau gue tulis. Oiya gue tau apa yang harus gue tulis.
"Traadddaaa selesai" Gue lumayan puas.
"Ini bacanya apa Chal?" Sabro tampak penasaran.
"Al-Ma'hadil Asr Al-Ghazali"
"Artinya?"
"Pondok Pesantren Al-Ghazali"
"Itukan nama pondok lu Oneng!" Sabro tertawa kecil
Saat itu wajah gue tampak senang, tapi sebenarnya hati gue berkata "bersenang-senanglah anak muda, karna siapa tau ini adalah terakhir kalinya kau bersenang-senang".

Sampe disini aja ya ceritanya, nggak enak sama Hasan kalo baca tulisan ini. Pokoknya perut kami terselamatkan selama tiga hari berkat ide sahabat gue, dan pokoknya lagi sejak saat itu Hasan nggak pernah lagi ragu untuk menyatakan perasaan pada wanita yang dicintainya dan kemudian dia menyandang gelar playboy kampus.
Intinya jimat ala kosan itu bisa jadi motipasi untuk berbuat hal yang positif, yang tadinya nggak punya keberanian menyatakan cinta tiba-tiba punya mental yang siap ditolak. Yang dulu nggak berani kekamar mandi sendirian sekarang jadi orang yang paling lama mandi. Ada juga yang tadinya nggak berani melawan pacarnya kemudian putusan hehehe. Lelaki harus punya sikap men..!


------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Bersambung.. .