Pada
umumnya makam memiliki bentuk yang sama, hanya gundukan tanah dan ditandai oleh
nisan. Seperti halnya komplek pemakaman diujung desa kecil yg tentram dan penuh
dengan segala aktifitas. Sebuah desa yang dikaruniai Tuhan dengan segala
kekayaan bumi-nya. Desa yang dihuni oleh mereka yang ingin mendapatkan
kedamaian, oleh mereka yang hidup saling berbagi.
Sekilas
daerah pemakaman tersebut tidak terlihat ada perbedaan dengan pemakaman umumya,
dipenuhi oleh persemayaman terakhir para penghuni desa, hanya sedikit pepohonan
rindang disana tidak cukup untuk melindungi mereka yang ada dibawahnya dari
terik matahari. Tapi ada satu makam disana yang terlihat sangat mencolok, makam
itu terlihat berbeda dari makam-makam disekitarnya, tidak ada batu nisan dan
tidak tercantum sebuah nama diatas pusaranya. Diatas makamnya terdapat ukiran
patung terbuat dari batu putih, patung tersebut memiliki ukuran 1:1 dengan ukuran
manusia pada umunya. Jelas terukir disana seorang lelaki kurus terbujur lemah,
tangan kiri patung lelaki itu tampak sedang memegang sesuatu diatas perutnya,
tapi kosong. Konon katanya nantinya
tangan kiri yang seperti sedang memegang sesuatu namun kosong itu bisa digunakan
untuk menyelipkan setangkai bunga diselah-selah jemarinya, bagi siapapun yang
menyayangi lelaki itu ketika berziarah kelak. Wajah lelaki itu tampak datar,
sama sekali tidak terdapat ekspresi apapun tapi jelas terlihat matanya sedang
menatap lembut kearah sosok patung wanita cantik berkerudung yang sedang duduk
disampingnya, mereka tidak saling tatap karna wajah patung wanita itu memandang
langit barat, sejajar dengan posisi tubuh patung wanita tersebut. patung wanita
itu terlihat sedang tersenyum, ekspresi bibirnya seolah sedang mengucapkan
sesuatu tapi entah. Tangan kiri patung wanita itu sedang menggenggam
pergelangan tangan kanan dari patung lelaki yang berusaha menyentuh wajahnya.
Tangan kanan patung wanita itu terukir sedang menunjuk kearah dada kiri si
lelaki. Dari kejauhan makam itu tampak terlihat seperti dua sejoli yang sedang
berbincang tentang senja.
Tidak
seorangpun yang mengerti apa maksud dari sang seniman ulung itu mengukir dan
meletakanya disebuah makam diujung desa. Sayang sekali rasanya jika karya yang
diukir sangat detil tersebut hanya dilihat oleh para peziarah yang datang untuk
menumpahkan air mata kerinduan diatas makam-makan lain. sepertinya sang pemahat
berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan melalui sebuah karya yang indah.
Sore
itu sedikit gelap tampak seorang gadis cantik melangkah memasuki komplek
pemakaman dengan menggenggam setangkai mawar putih, paras cantiknya tidak bisa
menutupi rasa kehilangan yang amat sangat mendalam. Dia terus melangkah
diantara makam yang sedikit basah karna tersiram hujan sebelumnya dan dia
kemudian berhenti persis dipinggiran makam yang dihiasi patung tadi.
“aku
datang, seperti apa yang telah kamu tulis”. Kemudian dia menyelipkan bunga yang
dibawanya tadi diantara jemari kiri patung lelaki itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar