Kamis, 20 Februari 2014

Sementara

Pada umumnya makam memiliki bentuk yang sama, hanya gundukan tanah dan ditandai oleh nisan. Seperti halnya komplek pemakaman diujung desa kecil yg tentram dan penuh dengan segala aktifitas. Sebuah desa yang dikaruniai Tuhan dengan segala kekayaan bumi-nya. Desa yang dihuni oleh mereka yang ingin mendapatkan kedamaian, oleh mereka yang hidup saling berbagi.
Sekilas daerah pemakaman tersebut tidak terlihat ada perbedaan dengan pemakaman umumya, dipenuhi oleh persemayaman terakhir para penghuni desa, hanya sedikit pepohonan rindang disana tidak cukup untuk melindungi mereka yang ada dibawahnya dari terik matahari. Tapi ada satu makam disana yang terlihat sangat mencolok, makam itu terlihat berbeda dari makam-makam disekitarnya, tidak ada batu nisan dan tidak tercantum sebuah nama diatas pusaranya. Diatas makamnya terdapat ukiran patung terbuat dari batu putih, patung tersebut memiliki ukuran 1:1 dengan ukuran manusia pada umunya. Jelas terukir disana seorang lelaki kurus terbujur lemah, tangan kiri patung lelaki itu tampak sedang memegang sesuatu diatas perutnya, tapi kosong. Konon katanya  nantinya tangan kiri yang seperti sedang memegang sesuatu namun kosong itu bisa digunakan untuk menyelipkan setangkai bunga diselah-selah jemarinya, bagi siapapun yang menyayangi lelaki itu ketika berziarah kelak. Wajah lelaki itu tampak datar, sama sekali tidak terdapat ekspresi apapun tapi jelas terlihat matanya sedang menatap lembut kearah sosok patung wanita cantik berkerudung yang sedang duduk disampingnya, mereka tidak saling tatap karna wajah patung wanita itu memandang langit barat, sejajar dengan posisi tubuh patung wanita tersebut. patung wanita itu terlihat sedang tersenyum, ekspresi bibirnya seolah sedang mengucapkan sesuatu tapi entah. Tangan kiri patung wanita itu sedang menggenggam pergelangan tangan kanan dari patung lelaki yang berusaha menyentuh wajahnya. Tangan kanan patung wanita itu terukir sedang menunjuk kearah dada kiri si lelaki. Dari kejauhan makam itu tampak terlihat seperti dua sejoli yang sedang berbincang tentang senja.
Tidak seorangpun yang mengerti apa maksud dari sang seniman ulung itu mengukir dan meletakanya disebuah makam diujung desa. Sayang sekali rasanya jika karya yang diukir sangat detil tersebut hanya dilihat oleh para peziarah yang datang untuk menumpahkan air mata kerinduan diatas makam-makan lain. sepertinya sang pemahat berusaha untuk menyampaikan sebuah pesan melalui sebuah karya yang indah.
Sore itu sedikit gelap tampak seorang gadis cantik melangkah memasuki komplek pemakaman dengan menggenggam setangkai mawar putih, paras cantiknya tidak bisa menutupi rasa kehilangan yang amat sangat mendalam. Dia terus melangkah diantara makam yang sedikit basah karna tersiram hujan sebelumnya dan dia kemudian berhenti persis dipinggiran makam yang dihiasi patung tadi.
“aku datang, seperti apa yang telah kamu tulis”. Kemudian dia menyelipkan bunga yang dibawanya tadi diantara jemari kiri patung lelaki itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar